
Dalam prosedur gastrointestinal endoscopy, menemukan polip tidak selalu berarti teknik pengangkatan yang digunakan akan sama pada setiap kasus. Ukuran, bentuk, lokasi, dan karakteristik polip dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan teknik polypectomy serta aksesori yang digunakan.
Salah satu perangkat yang umum digunakan untuk mengangkat polip adalah snare. Namun, pemilihan teknik cold snare atau hot snare tidak cukup hanya berdasarkan ketersediaan perangkat. Karakteristik lesi dan kondisi selama prosedur juga perlu diperhatikan untuk membantu mencapai reseksi yang efektif sekaligus mempertimbangkan risiko komplikasi.
Cold Snare atau Hot Snare? Ukuran dan Karakteristik Polip Menjadi Pertimbangan
Ukuran polip merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan teknik polypectomy. Secara umum, diminutive polyps memiliki ukuran 1–5 mm, sedangkan small polyps berukuran 6–9 mm.
Untuk polip berukuran kecil, cold snare polypectomy semakin banyak digunakan. Teknik ini menggunakan kekuatan mekanis dari snare untuk mengangkat jaringan tanpa aplikasi energi electrosurgical. Pada polip kolorektal berukuran ≤5 mm, cold snare menjadi salah satu teknik pilihan. Teknik yang sama juga dapat digunakan pada lesi sessile berukuran 6–9 mm.
Salah satu pertimbangan penting dari penggunaan cold snare adalah tidak adanya cedera termal seperti pada teknik yang menggunakan elektrokauter. Pada hot polypectomy, energi electrosurgical dapat menyebabkan cedera pada jaringan hingga ke submukosa. Jika pembuluh darah yang lebih dalam ikut mengalami cedera, perdarahan tidak selalu terjadi saat prosedur berlangsung.
Dalam kondisi tertentu, perdarahan dapat muncul setelah jaringan hasil kauterisasi mulai mengalami proses penyembuhan. Kondisi ini dikenal sebagai delayed hemorrhage atau perdarahan tertunda. Berbeda dengan perdarahan yang terjadi langsung selama prosedur dan dapat segera ditangani, perdarahan tertunda dapat membuat pasien kembali ke rumah sakit dan pada kondisi tertentu membutuhkan kolonoskopi ulang atau transfusi darah.
Meski demikian, penggunaan cold snare bukan berarti hot snare tidak lagi diperlukan. Hot snare tetap memiliki peran pada kondisi tertentu, terutama pada polip dengan karakteristik yang membuat penggunaan energi menjadi bagian dari strategi reseksi.
Salah satu contohnya adalah polip pedunculated, terutama jika memiliki stalk atau tangkai yang lebih tebal. Pada kondisi tertentu, strategi untuk mencegah perdarahan juga dapat dipertimbangkan sebelum reseksi dilakukan.
Karena itu, pemilihan antara cold snare dan hot snare tidak seharusnya hanya didasarkan pada ukuran polip. Bentuk, lokasi, karakteristik lesi, serta akses terhadap area target juga perlu diperhatikan.
Selain snare, pemilihan aksesori lain juga dapat mengikuti kondisi selama prosedur. Misalnya, pada situasi tertentu, injection needle atau perangkat hemostasis dapat dibutuhkan sebagai bagian dari strategi penanganan.
Pemilihan Snare Bukan Sekadar Memilih Ukuran Alat
Dalam praktiknya, snare bukan sekadar alat untuk “memotong polip”. Jenis dan spesifikasi snare perlu disesuaikan dengan kebutuhan prosedur.
Operator perlu memastikan snare dapat membuka dengan baik di sekitar lesi dan menangkap jaringan secara memadai. Posisi polip juga menjadi pertimbangan karena lesi yang berada pada lokasi atau sudut yang sulit dapat membuat proses pemasangan snare menjadi lebih menantang.
Hal ini menjadi semakin penting ketika ukuran atau bentuk lesi berbeda. Snare yang sesuai untuk polip kecil belum tentu memberikan pendekatan yang sama untuk lesi dengan ukuran atau karakteristik yang lebih kompleks.
Penggunaan cold forceps juga tidak selalu menjadi alternatif yang ideal untuk polip kecil. Pada lesi dengan ukuran tertentu, forceps dapat membuat jaringan harus diangkat secara piecemeal, yaitu secara bertahap dalam beberapa bagian. Pengangkatan seperti ini dapat meningkatkan kemungkinan adanya jaringan polip yang masih tertinggal.
Dalam beberapa kondisi, cold snare bahkan dapat digunakan pada polip yang sangat kecil. Namun, terdapat situasi tertentu ketika cold forceps dapat dipertimbangkan, misalnya ketika lokasi lesi sulit dijangkau dan snare tidak dapat ditempatkan dengan baik karena keterbatasan akses atau posisi endoscope.
Setelah polip berhasil direseksi, prosedur juga belum sepenuhnya selesai. Area bekas reseksi perlu diperiksa kembali untuk memastikan tidak terdapat perdarahan yang membutuhkan penanganan. Jaringan yang telah diangkat juga perlu dikelola sesuai kebutuhan pemeriksaan histopatologi.
Dengan demikian, pemilihan aksesori dalam polypectomy merupakan bagian dari perencanaan prosedur, bukan sekadar memilih perangkat yang tersedia. Ukuran dan karakteristik polip, teknik reseksi, akses terhadap lesi, hingga kebutuhan penanganan setelah reseksi perlu dipertimbangkan sebagai satu rangkaian.
Tidak ada satu teknik atau satu jenis snare yang otomatis sesuai untuk semua polip. Pemilihan cold snare, hot snare, maupun aksesori pendukung perlu disesuaikan dengan kondisi lesi dan kebutuhan prosedur.
Sebagai distributor alat kesehatan untuk kebutuhan gastrointestinal endoscopy, PT Megasetia Amora Karsa mendukung fasilitas kesehatan dengan menyediakan solusi perangkat dan aksesori endoskopi sesuai kebutuhan prosedur.
Untuk mendapatkan informasi mengenai pilihan perangkat dan aksesori gastrointestinal endoscopy, hubungi tim PT Megasetia Amora Karsa untuk berdiskusi mengenai kebutuhan prosedur Anda.